Nasional

Biaya Rp300.000, Hasil Nol: Jeratan Ekonomi yang Perlahan Membunuh Profesi Nelayan di Indonesia

Sebelum sebuah perahu nelayan meninggalkan dermaga pada subuh hari, pemiliknya sudah menanggung beban finansial yang tidak kecil. Solar untuk mesin, es batu untuk menjaga hasil tangkapan tetap segar, bekal makanan dan air minum untuk seharian di laut, biaya tambat, dan berbagai kebutuhan operasional lainnya. Semuanya dijumlah bisa mencapai Rp300.000 untuk sekali trip melaut—uang yang harus keluar terlebih dahulu, jauh sebelum ada kepastian tentang berapa banyak ikan yang akan didapat.

 

Di masa-masa normal, ketika ikan masih berlimpah dan cuaca bisa diprediksi, hitungan itu masih masuk akal: pengeluaran Rp300.000 bisa menghasilkan pendapatan beberapa kali lipatnya. Namun dalam konteks perubahan iklim yang kini mengacak-acak seluruh kalkulasi itu, biaya operasional yang tetap atau bahkan meningkat bertemu dengan hasil tangkapan yang terus menyusut—dan hasilnya adalah jeratan defisit yang semakin lama semakin dalam.

 

Riset UPER: Membedah Anatomi Kemiskinan Nelayan Pesisir

Inilah realitas yang dibedah secara akademis oleh tim peneliti Universitas Pertamina (UPER) dalam kajian mereka di Teluk Aru, Kalimantan Selatan—salah satu pusat perikanan tangkap terbesar di Kalimantan Selatan dengan potensi produksi 98.000 ton per tahun. Riset yang dipimpin Ita Musfirowati Hanika dari Program Studi Komunikasi ini menggunakan pendekatan Sustainable Livelihood Framework (SLF) untuk memahami secara menyeluruh bagaimana perubahan iklim merusak fondasi ekonomi keluarga-keluarga nelayan.

 

Hasilnya mengkonfirmasi apa yang sudah lama dirasakan oleh nelayan tetapi jarang masuk ke dalam data resmi: biaya operasional melaut kini seringkali melampaui pendapatan yang diperoleh. Penurunan hasil tangkapan sebesar 15 persen yang dicatat riset ini, ketika dikombinasikan dengan biaya operasional yang tidak turun, menciptakan margin keuntungan negatif yang menjerat nelayan dalam lingkaran kemiskinan yang semakin sulit diputus.

 

Dari Nelayan Menjadi Petani: Kisah Pak Kaswin dan Ribuan Nelayan Lain

Pak Kaswin tidak lagi melaut. Pria yang lahir dan besar di tepi Teluk Aru ini kini menghabiskan hari-harinya merawat kebun cengkeh—sebuah pilihan yang bukan didorong oleh keinginan untuk berganti profesi, melainkan oleh kebutuhan untuk bertahan hidup. Laut yang pernah menjadi sumber penghidupan yang bisa diandalkan kini terlalu tidak menentu untuk dijadikan tumpuan.

 

Kisah Pak Kaswin bukan kisah tunggal. Di seluruh pesisir Indonesia, nelayan-nelayan yang tidak lagi bisa mengandalkan laut mulai beralih ke berbagai profesi alternatif—menjadi buruh bangunan, petani, tukang ojek, atau pedagang kecil. Transisi ini tidak selalu buruk jika terjadi dalam kondisi yang memungkinkan—ketika ada pelatihan, modal, dan dukungan kebijakan. Tetapi ketika terjadi karena terpaksa, tanpa persiapan, dan di usia yang tidak muda, dampaknya terhadap kesejahteraan keluarga bisa sangat merusak.

 

Ancaman terhadap Kedaulatan Pangan Nasional

Di luar dimensi kemanusiaan, krisis ekonomi nelayan juga mengancam sesuatu yang jauh lebih besar: kedaulatan pangan nasional. Indonesia adalah negara maritim dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Sektor perikanan tangkap menjadi salah satu fondasi ketahanan protein nasional. Ketika produksi perikanan tangkap terancam turun hingga 26 persen pada 2050 akibat perubahan iklim—sebuah proyeksi IPCC yang tidak bisa diabaikan—implikasinya terhadap ketersediaan dan harga pangan ikan di seluruh Indonesia akan sangat signifikan.

 

Kenaikan permukaan laut sebesar 3,5 mm per tahun yang dicatat riset UPER menambah dimensi ancaman yang lain: pemukiman pesisir yang terancam tenggelam, tambak-tambak yang tergerus abrasi, dan infrastruktur perikanan yang rusak oleh gelombang pasang yang semakin sering dan tinggi. Semua ini adalah biaya riil dari perubahan iklim yang tidak muncul dalam laporan keuangan perusahaan atau statistik emisi karbon, tetapi sangat nyata dirasakan oleh 30,2 juta warga pesisir Indonesia.

 

Jalan Keluar: Adaptasi yang Didukung, Bukan Diserahkan Sendiri

Riset UPER menggunakan Health Belief Model (HBM) untuk memahami pola perilaku adaptasi nelayan dan menemukan sesuatu yang sebenarnya menggembirakan: kesadaran untuk beradaptasi sudah ada. Nelayan memahami bahwa mereka perlu mengubah cara melaut, mengadopsi teknologi baru, atau mendiversifikasi sumber pendapatan. Yang kurang bukan kemauan—yang kurang adalah dukungan.

 

Tim peneliti merekomendasikan program pembiayaan yang mudah diakses untuk modifikasi perahu agar lebih aman menghadapi cuaca ekstrem, serta bantuan teknologi tepat guna—dari alat tangkap yang lebih efisien hingga sistem penyimpanan hasil tangkapan yang lebih baik. Selain itu, program diversifikasi mata pencaharian yang terencana dan didukung penuh oleh pemerintah perlu dirancang khusus untuk nelayan yang terpaksa beralih profesi, agar transisi tersebut tidak meninggalkan mereka dalam kerentanan yang lebih parah.

Untuk melihat daftar program studi dan informasi pendaftaran terbaru, Anda dapat langsung mengakses laman resmi admisi Universitas Pertamina melalui https://pmb.universitaspertamina.ac.id/admisi?src=101 dan mulai merencanakan langkah akademik terbaik Anda.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *